Jangan Berhenti Belajar


OBYEK BERSEJARAH, JATI DIRI BANGSA DAN KETAHANAN NASIONAL
Agustus 11, 2008, 3:07 am
Filed under: Sejarah

Pengantar 

Ketika  membaca judul yang ditawarkan  oleh panitia untuk acara pada hari ini maka memori saya langsung bekerja untuk memberikan informasi tentang sesuatu di Banjarmasin yang dapat mendukung  judul itu. Tiba-tiba terlintas nama-nama jalan seperti Jalan. Akhmad Yani, Jalan Gatot Subroto, Jalan S. Parman,  Jalan Kol. Sugiono. Jalan S. Parman, Jalan Lambung Mangkurat,  Jalan  K. H Brigjen Hasan Basery, Jalan. Ratu Zaleha, Jalan. Zapri ZamZam, Jalan. Lambung Mangkurat, Jalan. Ratu Zaleha, Jalan Sultan Adam dan Panglima Batur.  Selain nama-nama jalan terlintas juga  nama Universitas Lambung Mangkurat, Sekolah tinggi Sultan Adam, Pasar Antasari, Gedung Suriansyah, Lapangan Murjani, Air Port Syamsuddin Noor, Rumah sakit Ansari Saleh. Mesjid Hasanudin. Baru kemudian  terlintasn obyek bersejarah. Adapun obyek bersejarahnya yang terdapat di Banjarmasin dan sekitarnya adalah bangunan  bersejarah baik berupa bangun sebagai symbol agama seperti mesjid jami, mesjid Suriansyah, gereja maupun bangunan perkantoran yang dianggap memiliki nilai sejarah, makam pahlawan Pangeran Antasari, monument 17 Mei, makam Brigjen Khasan Basery, makam Syekh Arsyad Al Banjari   taman pahlawan,   monument-monumen dan lain sebagainya..

Fenomena  yang serupa di atas juga akan ditemui di setiap kota-kota di Indonesia seperti tugu monas, patung 7 pahlawan revolusi, patung Sudirman, patung Diponogoro, museum, mesjid Demak  atau  mungkin juga  terdapat di luar negri. Paling tidak ada patung Emilio. Zapata di Mexico, patung Jose Rizal di Filipina. patung Otto van Bismarck, patung Sadam Husein, patung serdadu tidak dikenal di Rusia dan lain sebagainya.

Kembali ke Banjarmasin,  bagi sebagian besar orang fenomena  tentang  nama –nama tokoh dan benda-benda sebagai obyek sejarah yang menghiasi  kota tentu akan memunculkan pertanyaan yang bersifat kronikel ( apa, siapa, di mana, kapan dan bagaimana) atau ada juga ada  pertanyaan yang bersifat analitik yaitu kenapa harus itu. Tampaknya hal ini harus diserahkan kepada sejarah sebagai ilmu yang dalam permasalahannya selalu menjawab pertanyaan yang bersifat kronikel dan analitik   Akan tetapi sejarah oleh sebagian orang ditafsirkan sebagai alat legitimasi untuk menentukan kekuasaan. Angapan ini memang ada benarnya, sebab apabila terjadi pergantian pemerintahan yang lama berkuasanya maka yang sering kita dengar adalah pernyataan-pernyataan tentang perlunya pelurusan sejarah. Dalam konteks ini dapat dikatakan sejarah masuk dalam ruang politik.

Memang sejarah sampai saat ini menjadi fenomena umum yang selalu diperebutkan oleh mereka yang ingin mengendalikan untuk kepentingannya, berbeda dengan sejarawan   yang idealis dan berkarya dengan  nuraninya.  Biasanya karya sejarah yang telah dipolitisasi cenderung  direkayasa untuk kepentingan tertentu, sedangkan sejarawan yang idealis sangat dibatasi geraknya oleh sumber yang diperolehnya melalui metoda sejarah, kecangihan dalam menerapkan metodologinya dan bahkan hasilnya dapat mempertanyakan keabsahan sang penguasa.

Membincangkan sejarah, hemat Taufik Abdullah (2001:103) akan selalu berhadapan dengan tiga dimensi sejarah sekaligus, yaitu  berita  tentang pikiran,  disiplin ilmu dan rekonstruksi peristiwa. Rekontruksi peristiwa dalam konteks ini, bersentuhan dengan disiplin ilmu  sebab berurusan dengan metoda dan metodologi. Perumpamaannya  yaitu, setelah data dan fakta direkontruksi nama-nama  seperti  Akhmad Yani, Gatot Subroto, S. Parman, Sugiono merupakan nama pahlawan nasional berasal dari kalangan militer yang berasal dari Jawa. Nama Antasari, Brigjen K.H. Hasan Basery adalah pahlawan nasional berasal dari local, sedangkan nama Lambung Mangkurat, Ratu Zaleha, Pangeran Samudra, Zapri Zamzam, Pangeran Suriansyah dan Junjung Buih adalah nama tokoh primordial yang terdapat dalam memori masyarakat Banjar. Persoalannya di mana pikiran dalam sebuah fenomena sejarah?Lantas apa fungsinya nama-nama tokoh sejarah nasional maupun local yang diabadikan menjadi nama-nama  jalan, bangunan-bangunan, patung, monumen-monumen di Kota Banjarmasin dan apa hubungannya dengan jati diri dan ketahanan nasional?

Pertanyaan di atas menjadi relevan untuk dilontarkan pada  masa kini, karena ada  keresahan yang melanda sebagian orang dari bangsa ini tentang menurunnya nasionalisme di kalangan msyarakat..

 

PENCIPTAAN PAHLAWAN  NASIONAL DARI BANJARMASIN

 

                Nama –nama yang telah disebutkan di atas merupakan nama-nama tokoh  yang telah hadir  dalam  cerita-cerita tentang kepahlawanan dari masa zaman Banjar kuno (sekitar abad XIV), Abad XIX, zaman kemerdekaan, sampai zaman gerakan mahasiswa tahun 1966. Apabila dicermati nama tokoh pahlawan yang menghiasi kota Banjarmasin dapat dibagi menjadi dua katagori, yaitu katagori pahlawan nasional dan pahlawan local (primordial). Dari sederet nama pahlawan nasional yang tertera hanya dua orang pahlawan nasional yang berasal dari Banjarmasin., yaitu Pangeran Antasari yang makamnya sekarang berada dekat mesjid jami dan Brigjen K.H. Hasan Basery  yang makamnya di luar kota Banjarmasin. Pangeran Antasari dan Brigjen. K. H. Hassan Basery merupakan dua tokoh emperik dan hero yang hidupnya berbeda masa akan tetapi memiliki kesamaan, yaitu pelawan terhadap penjajah.

                Pangeran Antasari sebagai pelawan terhadap penjajah merupakan  contoh tentang penerimaan sejarah, bahwa perlawanannya terhadap penjajah dapat menjadi bagian dari sejarah nasional.  Perlawanan yang digerakan oleh Pangeran Antasari juga merupakan model  sebagai   muasal dari nasionalisme. Pendapat  ini diperkuat oleh Kuntowijoyo              (1994: 41), hematnya perlawanan terhadap penjajah itulah yang menjadikan gerakan itu sebagai nasionalisme tingkat awal.  Konsep nasionalisme awal hanya bisa ditafsirkan dengan memahami jiwa zaman. Katakan saja, masuknya kolonialisme  pada wilayah primordial tertentu  telah mempurukan tatanan nilai  yang amat mereka junjung  tinggi  sebagai cita-cita budaya dari anggota komunitasnya. Keterhimpitan sosial yang diderita diyakini oleh mereka sebagai akibat dari ulah kolonialisme yang kafir.

 Merupakan kewajaran apabila Pangeran Antasari ditampilkan sebagai tokoh kharismatik yang berperan sebagai penjaga nilai dan  dianggap mampu membawa ke cita-cita budaya yang diidealkan oleh masyarakat Banjar pada masa itu. Untuk menggapai cita-cita budaya, mau  tidak mau mereka harus melawan kolonial. Dalam konteks ini, perlawanan untuk menggapai cita budaya menjadi symbol dari nasionalisme (Kuntowijoyo, Ibid: 44). 

                Proses nasionalisme memang sangat panjang akan tetapi bergerak perlahan tapi pasti. Proses ini mulai memperlihat hasilnya, ketika nasionalisme berubah menjadi gerakan social yang asosianalisme sampai kepada kemerdekaan yang berakhir menjadi Negara nasional. Dalam arti lain,  nasionalisme bergerak dari tafsiran budaya secara primordial ke arah cita-cita kebangsaan. Nasionalisme sebagai cita-cita ditempatkan dengan landasan rasionalisme dan dijadikan sebagai ideology.  Dari sini kita juga melihat terjadinya kesepakatan kekuatan politik untuk mendirikan  Negara Indonesia dan militer sebagai penjaga negaranya.

                Membincangkan dominasi pahlawan dari kalangan militer tampaknya kita harus menipis anggapan umum, bahwa dominasi militer dibangun pada masa masa orde baru melainkan ada pada masa sebelumnya. Dalam dokumen sejarah keberadaan militer yang berkaitan dengan peran sosialnya sudah dimulai pada masa demokrasi terpimpin. Dalam tulisannya Bambang Purwanto(2006:214) seorang sejarawan dari Gadjah Mada yang pemikirannya sangat kritis mengungkapkan , bahwa selain banyaknya anggota TNI  yang diangkat menjadi gubernur dan bupati di seluruh Indonesia, sebanyak 35 orang dari 283 orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang diangkat oleh Presiden Soekarno pada tahun 1960 adalah anggota TNI. Keperluan  keberadaan militer untuk negara    itupun terungkapkan dalam sebuah puisi karya penyair Khairil Anwar yang berjudul “Krawang dan Bekasi”. Isi dari puisi  memberikan ruang wacana tentang pentingnya militer bagi bangsa Indonesia jika ingin tetap merdeka dan eksis.

                Kedepannya terjadi diskusi yang menarik terkadang juga membingungkan tentang nasion yang tidak identik dengan bangsa. Adalah   Mochtar Pabotinggi (Anderson, 2002: xvii) yang diilhami bukunya Ben Anderson yang membedakan  bangsa dan nasion. Hematnya  bangsa adalah kolektivitas sosiologis, sedangkan nasion adalah kolektivitas politik. Penjelasannya, bahwa bangsa padanannya adalah populus yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah rakyat. Nasio di sisi lain lebih dipandang dalam arti komunitas yang baru menjadi political setelah melalui proses konstruksi social menjadi komunitas politik terbayang, begitulah pandangan Pabotinggi (Ibid:xix) Benedict Anderson (  Nordholt (ed.), 2005; 383), ketika menganalisa perkembangan sejarah system politik Indonesia, ia melihat pergeseran dari Negara ke bangsa dan kembali lagi ke Negara.Bagi Anderson bangsa merupakan suatu komunitas yang sangat kuat solidaritas sosialnya. Dalam konteks ini, Anderson melihat bangsa menekankan politik-politik partisipasi dengan tujuan suatu mobilisasi massa. Kita tinggalkan  diskusi tentang bangsa dan nasion. Kembali kepada persoalan awal.

Pada   periode ini Brigjen K. Hassan Basery sebagai pemimpin Divisi IV ALRI berkiprah sebagai agen sejarah untuk membangun nasionalisme di Kalimantan khususnya Kalimantan Selatan untuk membebaskan rakyat Kalimatan dari penindasan pendudukan Belanda. Pada akhirnya, kita ketahui wilayah Kalimatan minus Serawak dan Brunai menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah memang agak terlambat mengangkat Brigjen K. H. Hassan Basry sebagai pahlawan nasional ketimbang pahlawan nasional lainnya. Almarhum Brigjen K.H. Hassan Basery ditetapkan  menjadi pahlawan nasional pada tanggal 3 November 2001 semasa Megawati Soekarnoputri menjadi Preisiden Republik Indonesia.( H. Hassan Basery: 2003: 100). Kenapa pemerintah terlambat memberikan predikat mendiang K.H Hassan Basery sebagai pahlawan nasional. Pertanyaan ini mungkin bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Biarkan saja pertanyaan itu terlintas sesaat dan bergulir entah kemana, yang pasti mendiang Brigjen K.H. Hassan Basery sudah diangkat menjadi pahlawan nasional dan tentunya kita sebagai urang Banjar sedikit bangga, karena dari sederet nama pahlawan nasional terselip juga putra terbaik dari banua Banjar.

 

Pengangkatan pahlawan nasional di republic yang kita cintai ini dimulai oleh mendiang presiden pertama Indonesia, yaitu Soekarno yang sangat perduli akan sejarah bangsanya. Kecintaan Bung Karno  terhadap sejarah bangsa terlihat ketika ia mengutip pandangan Reenan, bahwa bangsa dan tanah air bukan terjadi begitu saja, tetapi bermuasal dari pengakuan  dari pergolakan pemikiran intelektual yang sengaja diciptakan. ( Abdullah, 2001: 34). Pandangan ini oleh Benidict Anderson (2002) disebut sebagai komunitas-komunitas terbayang ( imagined communities). Ketika Bung Karno berhasil mengintrodusir rasa kebangsaan, ia juga  merasa perlu membuat jargon  yang sangat terkenal, yaitu bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.Hal ini yang membuat mendiang Presiden Soekarno merasa perlu untuk mengangkat pelawan-pelawan terhadap penjajah menjadi pahlawan nasional

Menurut tulisan Schreiner ( 2005: 384) pengangkatan tokok sejarah menjadi pahlawan nasional diawali ketika mendiang Presiden Soekarno pada Desember 1957 mengeluarkan dekrit tentang  peraturan  yang berhubungan dengan penghormatan pada hari peringatan   pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Satu tahun kemudian tepatnya. Tahun 1958, Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.241 tahun 1958 tentang prosedur menyeleksi dan menetapkan pahlawan-pahlawan nasional.

Kriteria pahlawan  menurut Keputusan Presiden tahun 1958 adalah sebagai berikut.Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seseorang yang semasa hidupnya terdorong oleh rasa cinta tanah air sangat berjasa dalam memimpin suatu kegiatan yang teratur guna menentang penjajahan di Indonesia, melawan musuh dari  luar negri ataupun mereka yang berjasa dalam lapangan politik, ketata negaraan, social ekonomi , kebudayaan, maupun dalam lapangan  ilmu pengetahuan yang erat hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan dan perkembangan Indonesia (dalam Schreiner: 385).

 

Ketika Indonesia terlibat konfrontasi dengan Malaysia (1964), mendiang Presiden Soekarno merevisi konsep pahlawan. Pahlawan menurut  hasil revisi tahun 1964 adalah sebagai berikut:

 

1.       Warga Negara Republik Indonesia yang gugur karena tindakan kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan jasa Perjuangannya dalam suatu tugas untuk membela negara dan bangsa

2.   Warga Negara Republik Indonesia yang masih diridhoi dalam keadaan hidup sesudah melakukan tindakan kepahlawannya yang cukup membuktikan pengorbananya  dalam suatu tugas perjuangan untuk membela negara dan bangsa  dan yang dalam riwayat hidup Selanjutnya tidak ternoda oleh suatu tindakan yang menyebabkan menjadi cacat nilai perjuangan karenanya ( Ibid:386).

 

Pada  era Presiden Suharto berkuasa, ia mengangkat pahlawan-pahlawan primordial  dari daerah-daerah luar Pulau Jawa. Semisal Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan, Imam Bonjol, Pangeran Diponogoro dan Pangeran Antasari dari Kalimantan Selatan.. Pengangkatan tokoh-tokoh hero primordial ini secara esensi untuk mengimbangi   banyaknya pahlawan nasional yang diangkat dari Jawa.. Katakan saja, kebijakan pengangkatan pahlawan dari daerah pada masa itu dapat dianggap sebagai sudah tercapainya integrasi nasional secara penuh. Dalam arti lain, Pangeran Antasari bukan saja pahlawan dan milik Orang Banjar, akan tetapi ia juga pahlawan milik bangsa Indonesia, begitu juga kebalikannya. Dalam bahasa lain, hampir di seluruh wilayah Indonesia akan terdapat pahlawan-pahlawan nasional.

Kemudian nama-nama pahlawan nasional itu sengaja ditonjolkan  disebarkan,  ditanamkan dalam ingatan kolektif rakyat Indonesia semenjak pemerintah menetapkan mereka sebagai pahlawan nasional. Sejak saat itu juga, nama pahlawan nasional diabadikan menjadi nama-nama jalan, nama-nama gedung sebagai asesorisr sebuah kota. Penghargaan kepada pahlawan nasional diasakan dapat membantu dalam membentuk kesadaran politik dan sejarah bangsa Indonesia.

Tidak cukup dengan  itu, untuk mengontrol bangsa dalam konteks ini adalah rakyat, Negara menciptakan ritual-ritual politik. Menurut Terue Sekimoto ritual politik itu sebagai medium penghubung antara negara dan bangsa (Schreiner:405). Ritual politik yang sangat tampak adalah pada acara peringatan 10 November. Peringatan 10 November semasa pemerintahan Soekarno ditandai dengan rapat-rapat masal dan Soekarno tampil dengan pidato-pidato yang memikat layaknya seperti burung merak atau bisa seperti flamboyan.pada masa Orde Baru peringatan 10 November  dibuat lebih  formal dan harus dilaksanakan di seluruh pelosok negri.

Di Banjarmasin peringatan 10 November,  di setiap instansi melakukan upacara kemudian biasanya dilanjutkan dengan ziarah ke makam Pangeran Antasari. Dalam satu sisi ziarah ke makam pahlawan merupakan bentuk penghargaan kita kepada orang yang dihormati, tetapi di sisi lain khususnya dari sudut pandang politik memperlihatkan betapa kuatnya Negara ketimbang bangsa.

 

JATI DIRI BANGSA  OBYEK SEJARAH DAN OBYEK BERSEJARAH

 

Konsep` jatidiri bangsa dapat disandingkan dengan identitas bangsa. Salah satu unsure yang sangat penting dalam  Jatidiri bangsa adalah kesadaran sejarah. Kesadaran sejarah sangat diperlukan sebagai penanda atau pembeda. Pembeda itu yang kelak membedakan  satu bangsa dengan bangsa lainnya. Mungkin perlu saya tengahkan pernyataan seorang pakar tentang suatu bangsa yang tidak memiliki kesadaran sejarah berpotensi menjadi bangsa yang lemah dan mudah dijajah dengan berbagai modus, yaitu politik, ekonomi dan budaya (Sedyawati 2006: 384) Tidak terbayangkan apabila suatu bangsa tidak mempunyai identitas maka ia mudah tergusur ataupun terbius oleh pengaruh dari negara lain.

Membincangkan jati diri bangsa memaksa saya untuk mencari buku yang dikaryakan oleh para arkeolog. Dugaan saya tampaknya benar adanya. Edi Sedyawati ( 2006:379) seorang arkeoloog, menyebutkan jati diri suatu bangsa dalam berbagai skala ditentukan oleh dua hal, yaitu (1) warisan budaya yang  berupa hasil-hasil penciptaan di masa lalu; dan (b) hasil-hasil daya cipta di masa kini yang didorong, dipacu dimungkinkan oleh tantangan dan kondisi actual dari zaman sekarang. Mencermati judul yang diberikan kepada saya, maka bagian yang pertama dari pandangn Edi Sedyawati yang  sangat mendukung untuk judul yang diberikan panitia kepada saya. Betapa tidak, pada bagian yang berupa warisan masa lalu memberikan ruangan kajian bagi sejarah, arkeologi dan filologi.

.Apa yang disebut dengan obyek sejarah.  Sejarah dimasukan dalam ilmu  kemanusiaan (humaniora) sebab obyek penelitiannya adalah manusia.Tetapi jangan  disamakan dengan antropologi, politik, hukum, psikologi dan lain sebagainya yang sama-sama mengkaji manusia. Perbedaannya terdapat pada obyek sejarah, yaitu persoalan waktu. Bagaimana dengan fisika yang juga membincangkan  masalah waktu?Memang fisika membicangkan persoalan waktu, akan tetapi fisika membicarakan waktu fisik, sedangkan sejarah membincangkan waktu manusia. Dalam kata lain, sejarah membincangkan seluruh aspek kehidupan manusia yang diikat dalam kurun waktu.

Lantas apa yang disebut dengan obyek bersejarah. Orang biasa sangat sering terkecoh atau mungkin juga tidak dapat membedakan antara obyek sejarah dan obyek bersejarah. Obyek sejarah sudah jelas seperti yang telah dipaparkan di atas. Adapun obyek bersejarah tidak lain dari tinggalan-tinggalan yang dikaryakan oleh manusia dalam kurun waktu tertentu. Bisa juga ruang tempat aktivitas manusia pada masa lampau. Obyek bersejarah dalam bentuk benda disebut artifact. Artifact  bisa berbentuk foto-foto,atau alat-alat peningalan manusia. Dalam konteks tulisan ini obyek bersejarah diartikan sebagai makam pahlawan, ulama, kerabat istana, mesjid dan lain sebagainya.

Obyek bersejarah di Kalimantan Selatan pada masa klasik diwakili oleh situs Candi Laras di margasari dan Candi Agung di Amuntai. Kedua candi ini disebut-sebut dalam Hikayat Banjar. Candi Agung oleh banyak orang disebut memiliki hubungan dengan Majapahit. Apabila kita mengacu pada pandangan umum, bahwa adanya hubungan Candi Agung dengan Majapahit maka Candi Agung berdiri pada Abad XIV,sedangkan usia Candi Laras usianya lebih tua. Akan tetapi  menurut penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin (Balar) berdasarkan hasil analisis  laboratories melalui radiokarbon C 14 terhadap sample kayu dari areal teras candi, yaitu abad ke-8 masehi ( Vida Pervaya, 2005:  59). Sedangkan di Candi laras ditemukan  prasasti batu hitam dengan aksara Pallawa (abad 7-9 Masehi) berbunyi  jaya sidda. Selain itu ditemukan arca perunggu Buddha Dipngkara. Arca ini berukuran tinggi 21 cm lebar 8 cm dalam posisi berdiri dengan jubah berlipat-lipat menutupi bahu kiri. Arca ini disinyalir berasal dari Srilangka (Ibid:57). Kedua candi itu memberikan  informasi , bahwa budaya klasik di Kalimantan Selatan  berkembang seiring  dengan masa kejayaan budaya klasik di Jawa Tengah.

Obyek bersejarah masa Islam yang paling banyak terdapat di Kalimantan Selatan dibandingkan dengan masa sebelumnya. Menurut catatan sejarah di Kalimantan Selatan terdapat sebuah kerajaan, yang dalam arsip Belanda disebut dengan Kerajaan Banjarmasin atau lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Banjar dan 3 kerajaan kecil, yaitu Pagatan dan Koesan, Batu Licin dan Sigam serta Koesan. Menurut penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin yang dimulai pada tahun 1994 telah mengiventarisir obyek bersejarah  islam yang tersebar di Kabupaten Banjar, Kabupaten Kotabaru, Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong.

Obyek bersejarah di Kabupaten  Banjar seperti yang saya kutip dari tulisan Bambang Sakti Wiku Atmojo (2006:36-38) terdiri dari makam Sultan Inayatullah, Sultan Adam, mesjid jami peningalan Syekh Abdulhamid Abulung (1885). Kedua  sultan itu  merupakan sultan Banjar yang saat itu ibukota kerajaan Banjar sudah dipindahkan dari Banjarmasin ke Martapura. Adpun Abulung yang memiliki nama panjang, yaitu Syekh Abdulhamid Abulung yang pandangn sufiistiknya berseberangan dengan Syekh Arsyad Al Banjari seorang ulama kerajaan yang sangat tersohor keilmuwannya.

Makam tokoh baik yang berhubungan dengn keluarga istana maupun ulama terdatakan juga oleh Balai Arkeologite (Balar). Katakan saja makam-makam ulama yang sangat terkenal yang karyanya banyak dibaca oleh orang Malaysia dan muslim Thailand, yaitu Syekh Arsyad Al Banjari,Syekh Abdulhamid Bulung dan seorang mufti (hakim) dari kerajaan Banjar bernama K.H. Jamaluddin Sugi Mufti. Panglima Batur, Pangeran Antasari, Hasanuddindi Banjarmasin,  makam Dartu Sanggul di Tapin, makam Penghulu Rasyid dan  K.H Lukman Hakim di Tabalong, komplek makam Haji Japeri di Barito Kuala. 

 

Keberadaan mesjid juga tidak luput dari penelitian Balar. Mesjid Sultan Suriansyah di kelurahan  Kuin Utara Kecamatan Banjar Utara.Mesjid Jami di Jalan Sulawesi peninggalan abad XVIII yang sudah beberapa kali direnovasi. Besar kemungkinan mesjid ini merupakan mesjid pertama di Banjarmasin.Dalam sisi lain, mesjid Sultan Suriansyah merupakan symbol, bahwa agama Islam mulai diformalkan dan dijadikan agama negara Kerajaan Banjarmasin. Dalam arti lain, secara informal agama Islam sudah masuk dan dianut sebagian penduduk di wilayah ini.

Di Tabalong terdapat mesjid yang befrnama mesjid pusaka yang  berasal dari abad ke XIX (1815-1820), Mesjid pusaka Banua Lawas di Kecamatan Banua Lawas. Di Amuntai terdapat juga mesjid tua  yang dibangun pada abad XIX yaitu mesjid Agung Amuntai yang terdapat di Amuntai.

Selain mesjid, Balar juga meneliti bentuk rumah-rumah adat yang rata-rata dibangun pada XIX. Rumah-rumah adapt adalah rumah bubungan tinggi, Balai Laki, Balai Bini dan Cacak burung di Kecamatan Cempaka rumah adat bubungan tinggi,gajah baliku dan gajah manyusu di Teluk Selong dan lain sebagainya.

Kajian yang  telah dihasilkan oleh Balar Banjarmasin pada obyek-obyek bersejarah baik yang bersifat teknologis, fungsi dan makna simbolik diharapkan dapat mengungkapkan pencapaian yang telah dikaryakan oleh orang Banjar pada masa lalu. Bukankah nasional terbangun oleh keberadaan regional-regional. Dalam artian mengetahui tentang Banjar berarti juga mengetahui tentang Indonesia. Bisa juga, tidak mengetahui tentang Banjar berarti tidak mengetahui tentang Indonesia.

Makam pahlawan, ulama, keluarga istana pada masa lalu yang terdapat. di Banjarmasin ataupun di Martapura dan sekitarnya bukan melulu sebagai asesoris kota. Melainkan sengaja dibangun untuk menanamkan kesadaran sejarah atau mungkin kesadaran politik  generasi penerus terutama di kalangan pelajar agar menjadi bangsa yang kuat dan martabat sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain.

 

 

PENUTUP

                Dari judul dan narasi di atas isinya memperkuat argumentasi, bahwa obyek bersejarah dapat membantu pemahaman terhadap jati diri bangsa. Salah satu unsure penting dalam jati diri suatu bangsa adalah kesadaran sejarah secara subyektif. Dalam arti kata  masa lampau yang dikaji bukan demi pengetahuan itu sendiri, tetapi sebagai suatu symbol yang dapat diadakan untuk masa kini. Katakan saja, keberadaan Candi Laras, Candi Agung, makam dan mesjid Suriansyah merupakan symbol keagungan, keterbukaan, keberagamaan merupakan personifikasi urang Banjar dalam arti yang sempit dan personifikasi bangsa Indonsia dalam arti yang luas.

                Makam Pangeran Antasari, makam Brigjen K.H. Hassan Basery dan nama-nama pahlawan nasional dari luar Banjarmasin, khususnya Jawa merupakan symbol tentang kisah kepahlawanan dalam melawan dan mengusir penjajah dengan segenap hambatan fisik maupun psikis untuk mencapai kemerdekaan.

                         

Akhirnya,  saya mengakui obyek-obyek bersejarah apabila ditapsirkan secara ideologis tampaknya upaya Negara dalam membangun warisan cultural, penghormatan atas para pahlawan, kesamaan norma sudah dilakukan secara intens. Dalam kata lain, pasca reformasi gerakan pemisahan seperti GAM, neo RMS dan pertentangan antar etnik seperti kasus Dayak Vs Madura di Kalimantan,  Konflik Poso dan lainya tampak sudah berakhir, artinya kesatuan nasional sudah terjalin kembali. Persoalanya nasionalisme harus ditafsirkan tidak semata membuka masa lalu yang mendukung ideology politik yang sedang berkuasa, melainkan ideology yang berbasiskan kepada kepentingan rakyat banyak yang bercita-cita akan hidup yang lebih layak, sehingga Indonesia sebagai Negara yang kita cintai bukan sebagai suatu keutopian. Semoga dan semoga.

 

 

KEPUSTAKAAN

 

Abdullah, Taufik. 2001., Nasionalisme & Sejarah. Bandung: Satya Historika

 

Atmojo, Bambang Sakti Wiku, 2006.,” Hasil Penelitian Arkeologi Islam di Kalimantan yang Dilaksanakan Bali Arkeologi Banjarmasin Sampai Dengan 2005” dalam Naditira

 

 Widya Bulletin Arkeologi, No.15 April 2006. Banjarmasin: Balai Arkeologi  Banjarmasin.

 

Basry. Hassan. H.2003., Kisah Gerilya Kalimantan Periode 1945-1949. Banjarmasin:  Yayasan Bhakti Banua

 

Kuntowijoyo,1994., Demokrasi & Budaya Birokrasi. Yogyakarta: Bentang

 

Sedyawati,Edi.2006, Budaya Indonesia Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta;  Rajawali Pers

 

Purwanto, Bambang,2006., Gagalnya Historiografi Indonesiasentris. Yogyakarta: mbak

 

Schreiner, H Klaus.2005.” Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional dari Demokrasi  Terpimpin sampai Orde Baru 1970-an dan 1980-an’ Dalam  Nordholt, Henk  Schulte (ed.), Outward Appearances. Yogyakarta: LKiS

 

Kusmartono, Vida Pervaya Rusianti,2005., “Candi Laras dan Candi Agung: Kronologi dan Kontak Budaya Masa Klasik” dalam Naditira Widya Buletin Arkeologi, No.14


4 Komentar so far
Tinggalkan komentar

bagus

Komentar oleh khamim

Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh dan bambang basiwara, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak/pahlawan ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Komentar oleh Kamal Ansyari

Katujuu ulun maambaaca, babukubaruas padahal paning kapala tapi rami.

Komentar oleh lukman

Jadi ingat semboyan Bung Karno, Jasmerah, jangan lupakan sejarah.

Komentar oleh lukman




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: