Jangan Berhenti Belajar


MULTIKAUSALITAS DI DALAM PENJELASAN SEJARAH
Agustus 11, 2008, 3:04 am
Filed under: Sejarah

I. Pengantar

 

                Paparan sejarah secara subyektif memerlukan penjelasan yang rasional mengenai suatu fenomena historis. Diskusi berkembang ketika muncul pertanyaan penjelasan bagaimana yang terlayak dipergunakan dalam pemaparan sejarah?

Jawabannya secara taktis adalah tergantung kepada paradigma yang digunakan. Kemunculan istilah paradigma erat hubungannya dengan perseteruan aliran pemikiran (filsafat) yang memuncak pada abad XIX antara aliran materialistis-naturalisme yang bersandar kepada filsafat Ilmu Alam dengan idealisme romantik yang bereaksi  atas pengaruh aliran yang pertama.

                Perseteruan dua aliran itu, memunculkan dua aliran pokok (mainstream) dalam gaya penulisan dan penggunaan teori sejarah pada masa itu, (1) yaitu teori evolusi biologis yang dianut dari ilmu alam yang kemudian menjadi jurubicara aliran positivisme; (2) filsafat romantik sebagai reaksi terhadap aliran pertama kemudian menjadi juru bicara kaum idealis dari aliran idealismus.

Istilah  paradigma sendiri dikembangkan oleh Thomas S .Khun dalam karyanya the Structure of Scientific  Revolution yang sudah dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul  Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains (1993). Hemat Khun , bahwa disiplin ilmu lahir berkat penumbangan terhadap pandangan teori lama oleh pandangan teori baru. Dalam kontek ini paradigma dapat diartikan sebagai sudut pandang yang menjadi pijakan suatu teori.

 

                Adalah Habermas (Fakih,2003:23-30) yang membagi paradigma ilmu sosial menjadi tiga paradigma, (1) instrumental knowledge ( paradigma positivis ); (2) hermeneutic knowledge  (paradigma interpretatif); (3) critical/ emancipatory (paradigma kritik).

Pada dasarnya paradigma kritis memperjuangkan pendekatan yang bersifat holistik, serta menghindari cara berpikir deterministik dan reduksionistik. Bukankah pernyataan itu selaras dengan pandangan  yang banyak dianut oleh para sejarawan kekinian, bahwa sejarah dapat dimengerti melalui pengalaman,  bukan pengalaman ilmu alam, tetapi pengalaman kemanusiaan yang begitu plural dan partikular.  Fenomena historis adalah bahasa lain dari Realitas Sosial yang diikat oleh kurun waktu. Realitas sosial hemat Habermas harus dilihat dalam perspektif kesejarahan. Pernyataan Habermas itu sangat menarik untuk dicermati.

 

                Tulisan ini berkehendak memaparkan bagaimana munculnya penjelasan multikausalitas sebagai paradigma kritik ( critical/ emancipatory ) yang ditawarkan oleh Habermas dapat digunakan dalam penjelasaan sejarah.

 

 

II. Covering Law Model (CLM)

 

                CLM adalah model yang dikembangkan oleh Hempel (1959: 344-356) untuk memberikan penjelasan sejarah. Model ini berawal dari pikiran Hume  (1712-1776) seorang filosuf berasal dari Skotlandia. Hematnya, alam diatur oleh hukum-hukum tertentu, demikian pula perbuatan manusia harus tunduk kepada prinsip-prinsip tertentu yang konstan dan universal. Pendapat ini kemudian didukung oleh Auguste Comte (1798-1857) dengan aliran positivismenya yang mengusung hanya satu jalan untuk mencapai pengetahuan yang benar dan dipercaya-entah apa obyek penelitiannya apakah alam hidup, alam mati, sejarah dan sebagainya, yaitu menerapkan metoda-metoda ilmu eksakta.

                Pengaruh kuat  aliran postivis ini merasuk pada pikiran Hempel. Ia dalam teorinya yang dikenal dengan covering law model (CLM), mengklaim, bahwa dalam mengeksplanasi suatu peristiwa berarti menunjukan suatu pernyataan yang dapat dideduksikan dari (1) pernyataan-pernyataan tertentu tentang kondisi yang mendahuluinya atau yang terjadi secara bersamaan, dan (2) hukum-hukum atau teori-teori universal tertentu dapat diuji secara emperik.  

                Untuk memudahkan pemahaman dari pandangan Hempel dengan CLMnya, kita dapat mengambil contoh. Bagaimana tentara Irak dibawah Sadam Husein dapat diporakpporandakan oleh tentara Amerika pada tahun 2003 ?. Pertanyaan ini jika diterangkan menurut pola pikir CLM berbentuk sebagai berikut:

 (1). Selalu, bila musuh menyerang dengan kekuatan militer yang kuat dan canggih,

        terlebih dapat mendominasi udara, maka perlawanan dapat dihentikan,

(2) . Tentara Amerika dengan jelas dapat memperlihatkan keunggulan militernya bila

         dibandingkan dengan tentara Irak.

 

Contoh lainnya adalah bagaimana ketika negara-negara dikenal dengan sebutan Newly Industrial Economics ( NIES) di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand pada dekade 70an-80an mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat? Pertanyaan ini jika diterangkan sama seperti di atas maka bentuknya sebagai berikut:

 

(1). Selalu, bila suatu negara yang membangun dengan teori pembangunan pertumbuhan

       cepat (rapid growth) akan cepat mengalami pertumbuhan ekonominya,

(2). Teori pembangunan pertumbuhan cepat ( rapid growth) adalah resep yang paling

        handal untuk memajukan pertumbuhan suatu negara.

 

                Dari contoh dua pertanyaan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa peristiwa yang ingin diterangkan ( eksplanandum ) diterangkan dengan memuaskan (eksplanasi). Sebab dalam CLM eksplanandum disimpulkan melalui sebuah deduksi logis dari sebuah ucapan nomologis (yang bersifat pola hukum). Untuk itu CLM sering juga disebut model deduktif-nomologis.

 

                Pernyataan  penjelasan CLM mengelitik bagi para penentangnya. Bagi para penentang CLM  penjelasan yang dianut oleh  penganut CLM sangat naif. Bukankah perlawanan pejuang Irak terhadap tentara Amerika sampai saat ini semakin membahana. Bukankah negara yang tergabung dalam NIES memasuki tahun  2000an paling tidak Indonesia dalam pertumbuhan ekonominya sangat tertatih-tatih, kalau tidak ingin disebut tersungkur.

                Apabila dicermati pandangan CLM ini sangat  deterministik  yaitu kausalitas dalam fenomena historis hanya dikembalikan kepada satu faktor saja. Faktor itu melulu dianggap sebagai faktor tunggal yang menjadi faktor kausalitas.

                Salah seorang penentang CLM bernama Morton White(1959:361), menyatakan bahwa  eksplanasi sejarah terutama merupakan suatu kesempatan untuk menjawab pertanyaan mengapa (why)? Bukan merupakan sebab yang alami. Suhu banyak sejarawan di Indonesia, yaitu Sartono Kartodirdjo yang saat ini menjadi  professor emeritus di Universitas Gadjah Mada dengan aliran Bulak Sumurnya  menjawab pertanyaan mengapa dalam penjelasan sejarah adalah dengan menggunakan pendekatan multidimensional.

Pendekatan multidimensional yang ditawarkan oleh Sartono semakin dipahami ketika  kita membaca karya Peter Burke , yaitu  History and Social Theory ( 1993 ). Buku  itu  pada tahun 2001diterjemahkan  ke dalam Bahasa Indonesia yang  diterbitkan oleh yayasan Obor Indonesia. Dalam bukunya Burke (2001) selain membincangkan bagaimana para sosiolog dan sejarawan saling menggunakan konsep-konsep dari masing-masing disiplin, dan berupaya juga menjelaskan mengapa dan bagaimana sejarawan dan ilmu-ilmu sosial perlu memperdalam apresiasi mereka terhadap hasil kerja sejawat diluar disiplin masing-masing dan meninggalkan dialog take and give dalam persoalan serius seperti masalah epistemologi dan konstruk-konstruk dari masing-masing disiplin

 

 

III. Pendekatan Multikausalitas

 

                Paradigma kritis hemat Habermas tidak melulu terlibat dalam teori yang spekulatif, tetapi lebih dikaitkan dengan keberpihakannya kepada masyarakat dalam menjalankan realitas sosialnya. Ketika kita mendiskusikan fenomena masyarakat dengan realitas sosialnya maka pembicaraan tentang multikausalitas tidak dapat diabaikan. Sebab di dalamnya terkandung gejala, situasi, permasalahan atas obyek manapun yang komplek. Suhu Sartono Kartodirdjo (1992: 95) dengan elok memberikan penjelasan tentang hubungan antar tindakan aktor dengan  yang lainnya tidak sesederhana seperti yang kita bayangkan karena di dalamnya menyangkut motivasi, sikap, struktur kepribadian, latar belakang kondisi sosial, dan lain sebagainya. Sekedar contoh adalah  marahnya (amuk)  para simpatisan salah satu partai kepada partai  dan simpatisannya yang selalu mendominasi dalam setiap pemilihan umum di Banjarmasin pada tanggal 23 Mei 1997. Amuk massa  oleh Gurr (1970: 3) dikatagorikan sebagai political violence. Mengapa bisa terjadi amuk massa. Jelas untuk menjelaskannya diperlukan pengetahuan dan urian yang komprehensip mengenai situasi nasional pada tahun-tahun, bulan, dan minggu-minggu sebelum peristiwa itu terjadi.

                Katakanlah munculnya amuk massa dapat terjadi  ketika ada sejumlah faktor penentu yang oleh Smelser (1971: 79) disebut necessary condition.  Dalam artian kita harus mengembalikannya kepada struktur sosial yang memungkinkan ( structural conducciveness ) munculnya suatu gejolak. Acapkali terjadinya depresi ekonomi atau adamnya ancaman tertentu mengakibatkan apa yang disebut ketegangan struktural ( structural strain).  Keadaan structural conducciveness dan structural strain sangat memungkinkan masyrakatnya mengalami apa yang disebut alienas.  Alienasi bermuasal dari Hegel akan tetapi  Marx lebih giat mengumandangkannya . Hemat Marx ( 2000; 57) alienasi  muncul dari salah satu cacat dari kapitalisme, yaitu inefesiensi, penindasan dan alienasi. Dalam kontek ini alienasi diartikan setiap individu kurang dalam mengapresiasi  tentang suatu makna sehingga ia merasa tidak memiliki rasa  realisasi diri.  Jika alienasi mengasakan bentuk realisasi diri  yang tidak dapat dipuaskan, maka ia bisa  memotivasi individu lainnya untuk menciptakan suatu masyarakat sebagai  ranah untuk mem\uaskan keinginan itu dengan mengasumsikan bahwa masyarakat itu dapat mereka ciptakan.

 Alienasi apabila dikritisi oleh pandangan Paulo Fraire yang banyak dikenal sebagai pakar pendidikan akan tetapi bagi saya ia adalah seorang humanis  akan memunculkan apa yang disebut suatu proses  penyadaran ( conscientizacao). Fraire (Fakih, Op.cit: 30) membagi tiga tingkatan kerangka besar tentang kesadaran dalam masyarakat., yaitu:

(1)                            Kesadaran magis, mewartakan bahwa kemiskinan ataupun ketidak berdayaan manusi disebabkan oleh faktor-faktor dari luar manusia;

(2)                            Kesadaran naif, menjelaskan mengapa  suatu masyarakat mengalami suatu kemiskinan yang terstruktur sebab kesalahannya berada di  masyarakat sendiri,  karena tidak satupun anggotanya mempunyai jiwa wirausaha;

(3)                            kesadaran kritis, melihat aspek sistem dan struktur sebagai masalah.

 

Simpatisan tertentu dari salah satu  partai di Banjarmasin pada 1997 merasa teralienasi oleh sistem dan struktur yang terjadi, sehingga membuahkan kesadaran diri untuk menciptakan apa yang diinginkan dengan cara amuk massa.

 

Faktor lain yang menciptakan amuk massa adalah masalah kekecewaan relatif ( relative deprivation). Gur (Op.cit: 24) membagi  kekecewaan menjadi tiga, yaitu (1) decremental deprivation suatu kondisi ketika terjadi harapan yang dimiliki oleh seseorang konstan, sedangkan kemampuan untuk meriahnya menurun; (2) aspirational deprivation, adalah harapan seseorang meningkat, tetapi kemampuannya untuk memenuhi harapan itu konstan; (3)  progressive deprivation,  kondisi  tentang harapan-harapan seseorang semakin meningkat, tetapi kemampuan untuk menggapainya malah menurun.

 

Amuk massa,  yang terjadi di Banjarmasin disertai pengrusakan terhadap sasaran  yang dituju akan dilakukan oleh individu ataupun sekelompok orang ketika ia berada dalam kondisi progressive deprivation.

               

                Ketika kita mendiskusikan kausalitas tindakan individu yang terlibat dalam amuk massa biasanya tidak lepas dari nilai budaya. Nilai budaya oleh Kuntowidjoyo (2002:8-9) dirinci ke dalam  empat hal, yaitu etika, persepsi, sensibilitas dan estetika. Nilai-nilai budaya itu merupakan faktor dominan walaupun ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi setiap tata laku individu, institusi atau yang lainnya yang kelak mempengaruhi sebuah perilaku. Memahami kausalitas  perilaku sering dikembalikan kepada faktor-faktor kepribadian individu dengan pendekatan emphaty. Dalam kontek ini ketika kita hendak meneropong kausalitas  perilaku maka tidak cukup dengan faktor psikologis tanpa disertai faktor kultural.

 

                Bagaimana kondisi disituasikan agar bermakna kemudian disebarkan menjadi keyakinan umum ( the spread of generalized belief), sehingga keadaan untuk meledakan amuk massa terkondisikan.  Dicari juga faktor pemicu sebagai sesuatu yang dianggap dramatik ( the precipitating factor). Bukankah kebencian simpatisan salah satu partai semakin memuncak dan diledakannya ketika ada kampanye putaran terakhir dari salah satu partai yang dianggap paling menghegamoni. Kenapa aktor intelektual tidak pernah terditeksi keberadaannya yang jelas keberadaannya secara semu sangat dirasakan. Bagaimana peran para jurkam dari partai-partai yang terlibat dalam kompetisi Pemilu ketika berkampanye. Bukankah mereka dapat juga dikatakan sebagai  penyulut kebencian dan   dengan pesona retorika pidatonya mereka mampu menghimpun massa.

               

               

                Paparan di atas menggambarkan, bahwa suatu fenomena historis kasus-kasusnya begitu beragam dan saling berkaitan, sehingga  determinis atau dalil-dalil ilmu alam tidak mampu menjelaskan  mengapa fenomena historis itu terjadi tanpa  paradigma kritis yang multikausalitas.  

 

 

IV. Penutup

 

                Multikausalitas pada dasarnya adalah pendekatan kritis untuk menjawab pertanyaan mengapa sebagai penolakan terhadap gaya penulisan sejarah positivis yang penjelasan melulu bersifat determinis dan monokausalitas. Multikausalitas dalam penjelasan sejarah dapat dibangun dengan pendekatan multidimensional (meminjam istilahnya  mahaguru Sartono Kartodirdjo). Ini dapat juga diartikan dengan apabila fenomena historis dicermati secara  multikausalitas maka eksplanase sejarah tidak berbeda dengan eksplanasi dari bidang ilmu-ilmu tentang manusia.

 

KEPUSTAKAAN

 

Burke , Peter., 2001., Sejarah dan Theori Sosial. Jakarta: yayasan Obor.

 

 

 

Elster, Jon., 2000., Karl Marx Marxisme-Analisis Kritis. Terjemahan. Jakarta: Penerbit

 Prestasi Pustakaraya

 

Fakih , Mansour., 2003., Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta:

 Insist

 

Gurr, Robert Ted., 1970., Why  Men Rebel. New Jersey: Princeton University Press

 

Hempel.G. Carl., 1959., “ The Function of General Laws in History”. Dalam Patrick

 Gardiner, Theories of History. New York: The Free Press  and London: Collier

 Macmillan Publishers

 

Kartodirdjo, Sartono., 1992., Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah.

 Jakarta: Gramedia.

 

Kuhn S, Thomass., 1993., Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains. Terjemahan.

 Bandung: Remaja Rosdakarya

 

 

Kuntowidjoyo, 2002., Selamat Tinggal Mitos Selamat Datang Realitas. Bandung:

 Mizan

 

Smelser J, Neil., 1971., Theory of Collective Behavior. New York: The Free Press..

 

 

White, Morton., 1959.,” Historical Explanation” dalam Patrick Gardiner (ed.,) Theories

 of History. New York: The Free Press and London: Collier Macmillan Publisher.

 


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: