Jangan Berhenti Belajar


Memahami H. Hassan Basry Sebagai Sesosok Pahlawan Nasional Yang Rendah Hati
Agustus 11, 2008, 2:44 am
Filed under: Sejarah

Sejarah adalah pelajaran bukan warisan. Sebab warisan dapat memunculkan pertentangan dengan mereka yang tidak kebagian warisan ataupun bisa habis tanpa memperoleh sesuatu sehingga tidak berarti apa-apa, sedangkan pelajaran adalah sesuatu yang berharga yang dapat membawa kita ke arah yang lebih humanis.

Jalan  Raya dari Banjarmasin ke airport Syamsuddin Noor atau ke arah Hulu Sungai kita akan menemukan sebuah  monumen dan  apabila akan belok ke arah Pleihari maka akan disuguhkan sebuah makam yang areanya relatif luas dan tertata dengan baik. Makam itu adalah makam Hassan Basery. Seorang tokoh pejuang dari Kalimantan Selatan yang pada tanggal 3 November 2001 telah diangkat menjadi pahlawan nasional.

 Monumen dan makam pahlawan Hassan Bassry dibangun oleh pemerintah daerah bukan melulu untuk asesori kota. Begitu juga keberadaan kita di sini bukan hanya untuk berkumpul untuk meromantiskan, bahwa kita punya pahlawan seperti daerah-daerah lain. Sebab , almarhun Hassan Bassry dan Hasanuddin dan pahlawan-pahlawan lainnya telah berbuat sesuatu untuk negara kita bukan untuk diromantiskan ataupun dijadikan arena ruang ritual politik. Setelah itu, kita tidak berbuat apa-apa. Kita barangkali sepakat, berkumpulnya kita sekarang adalah bentuk dari komunikasi untuk memberikan penghargaan kepada apa yang telah mereka perbuat dan juga  membantu membentuk kesadaran politik  dan sejarah pada masyarakat kita. Almarhum pahlawan Hassan Bassery saat ini bukan milik orang kalimantan Selatan saja, akan tetapi ia juga milik bangsa Indonesia. Saya juga yakin, ritual yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa berbentuk ziarah yang berarti kunjungan ke tempat suci bukan mengilustrasikan  seperti yang dimaksud oleh Schreiner  (Nordholt (ed.), 2005: 409) yaitu agama sipil negara Orde yang baru.

 Dalam konteks ini, Almarhum H. Hassan Basry telah memberikan pelajaran kepada kita tentang bagaimana pengorbanan dalam membangun nasionalisme Indonesia,   kerendahan hati, dan kepemimpinan yang  sangat dicintai oleh pengikutnya.  Pengorbanan dalam membangun nasionalisme menjadi aktual, ketika beberapa tahun kebelakang mungkin sampai saat ini nasionalisme Indonesia dibenturkan dengan keprimordialan.

                Apabila kita cermati, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mempunyai perjalanan sejarah yang berawal dari suatu ideologi nasionalisme sebagai tandingan dari ideologi kolonialisme yang mensahkan hubungan kekuasaan antara penjajah dengan yang dijajah. Memang, pada tanggal 17 Agustus 1945,  Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara nasion, akan tetapi melalui perjanjian Linggajati dan Renville, Belanda sebagai negara penjajah  berhasil menciptakan negara federal berdasarkan atas etnik. Dalam arti lain,  etnosentrisme telah dibangun oleh Belanda untuk menggorogoti negara nasional yang masih muda itu.

 Sepertinya sebagai suatu keharusan, bahwa etnosentris sebagai salah satu penyakit budaya hanya dapat diredam melalui perasaan nasionalis. Perasaan nasionalis ini, telah menyelimuti dan menggerakan hati pemuda Hassan Basry dengan teman-temannya  untuk berperan  sebagai godam guna  melantakan  etnosentrisme yang dibangun oleh Belanda. Realitas sosialnya, etnosentris yang dibangun Belanda di Kalimantan berhasil diluluh-lantakan oleh gerakan rakyat yang dipimpin oleh Hasan Basery yang kemudian bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Komitmen yang direfleksikan oleh Hassan Basry dengan kawan-kawannya menyiaratkan, bahwa rakyat Kalimantan adalah rakyat Indonesia. Komitmen itu memperjelas, bahwa NKRI dibangun oleh keinginan rakyat bukan atas intervensi pusat. Apabila rakyat Kalimantan tidak memiliki komitmen tentang kebangsaan, sangat memungkinkan Kalimantan dapat membangun negara sendiri, tetapi pilihan itu tidak dipilih. Tampaknya salah satu refleksi dari rasa nasionalisme itu adalah  pengorbanan yang memang merupakan  suatu  syarat mutlak untuk membangun kebanggaan nasional.

Pengorbanan rakyat Kalimantan untuk menjadi bagian dari NKRI telah dituturkan oleh H. Hasan Basry melalui bukunya. Dalam judul bukunya, ia memakai nama kisah tentang gerilya Kalimantan. Dari judul buku itu, menggambarkan kerendahan hati seorang H. Hasan Basry. Sebab,  kata kisah biasanya menggandung arti yang tidak akademis. Padahal isi dari buku itu, memuat proses dan dinamika tentang perjalanan sejarah rakyat Kalimantan menjadi bagian dari NKRI.

Apabila saya menganalogikan karya Hassan Basry dengan  karya Thucydides (Collingwod, 1985: 19) ada kemiripan dari jiwanya. Mungkin analogi saya ini terlalu berlebihan sebab Thucydides adalah seorang jenderal dari Athena dan menyandang predikat sebagai bapak sejarah kritis milik dunia. Terlepas dari itu semua,  Thucydides dan  Hassan Basry adalah panglima perang yang terlibat langsung dalam peristiwa sejarah yang dituliskannya. Memang, karyanya terfokus pada satu aspek saja yaitu persoalan militer dan penuturannya sederhana tanpa aspek retorika. Sumbangannya terhadap historiopgraphy adalah kekuatan sejarah yang benar sangat tergantung pada data yang akurat ketimbang pada pesona narasi yang retorika. 

Kerendahan hati yang lain, tampak dari.ketidak menonjolkan akunya dari suatu perubahan sosial di Kalimantan. Padahal ia adalah agen dari perubahan itu sendiri.   Thomas Carlyle ( Taufik Abdullah,1979:9) seorang penulis biographi bertutur, penulis biography ataupun autobiography selalu terbuai dengan kebesaran seorang tokoh, ataupun selalu mengapungkan kalimat yang berbunyi “  kalau tidak ada aku jalan ceritanya akan berbeda.” Kalimat yang terlalu  membanggakan diri itu  tidak ditemukan dalam  bukunya Hassan Basry.

Tanpa disadari,  Hassan Bassry dalam tulisannya telah mengikuti aliran structural. Menurut Miliband ( Daniel Dhakidae, 1991: 1-6) dalam kubu structural, kehadiran tokoh semata  menjadi  bagian dari satu arus umum sejarah, itu yang disebut trans generational history. Memang pengikut aliran ini, tidak dapat menampik bahwa kehadiran tokoh juga memainkan peranan penting dan sangat berpengaruh untuk menentukan jalannya sejarah. Misalnya, tokoh kita H. Hasan Basery tentunya telah memainkan peranan penting dalam perubahan sosial di Kalimantan. Namun peranan H. Hasan Basery tidak terlepas  dari struktur besar sosial dan ekonomi dibaliknya. Dalam kata lain, H. Hasan Basery  telah melaksanakan apa yang disebut political finishing touch yang memberikan corak yang khas.

.Kepemimpinan Hasan Basery terlihat, ketika ia mampu merekrut lasykar-lasykar bersenjata di Kalimantan, kemudian mewadahinya dalam ALRI  Divisi IV sampai memproklamirkan 17 Mei 1949 sebagai bagian dari NKRI. Sebagai pemimpin tentara yang professional, ia menerima dengan lapang dada ketika ALRI Divisi IV dilebur menjadi Divisi Lambung Mangkurat. Dalam kontek ini Hassan Basry mengalami mobilitas vertical yang menurun. Dalam arti kata, sebelum dibubarkan ALRI Divisi IV ia menjadi panglima  untuk seluruh Kalimantan, setelah dibubarkan ia hanya menjadi komandan dari Divisi Lambung mangkurat.

Kelapangan hati  Hassan Basry ketika mengalami mobilitas vertical yang menurun menggambarkan semangat nasionalnya. Sebab ia tahu persis apabila ia menolak maka nilai kesatuanpun akan terkoyak Lebih dari itu,  ia memahami bahwa jabatan hanyalah suatu amanah. Itulah pelajaran yang kita peroleh dari sesosok H. Hasan Basery yang telah membangun suatu proses integratif tentang suatu bangsa, yaitu bangsa Indonesia .

               

KEPUSTAKAAN

Basry Hassan, H, 2003, Kisah Gerilya Kalimantan Periode 1945-1949. Banjarmasin:

 Yayasan Bhakti banua

Collingwood, R.G., 1985. Idea Sejarah. Terjemahan. Muhd. Yusof Ibrahim. Kuala

 Lumpur: Dewan bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia.

Dhakidae Daniel, 1991, “ Pemain-Pemain Utama  dalam Pentas Sejarah Orde Baru”

 dalam  Prisma, Edisi Khusus tahun Prisma 1971-1991. Jakarta: LP3ES

 Klaus H. Schreiner, “ Penciptaan Pahlawan-Pahlawan Nasional dari demokrasi

 Terpimpin sampai Orde baru 1959-1993” dalam  Henk Schulte Nordholt (e.),

 2005. Outward Appearances Trend, Identitas, Kepentingan. Yogyakarta: LKiS               


1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, kalimantan selatan seperti datuk panglima hamandit, datu ramanggala di ida manggala sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, legenda datu ayuh/sindayuhan dan datu intingan/bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabo di kalumpang, datu patinggi di telaga langsat,legenda mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari di hamalau, datu kandangan dan datu kertamina, datu hamawang dan sejarah mesjid quba, tumenggung antaluddin mempertahankan benteng gunung madang, bukhari dan perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di lukloa, datu singakarsa di pandai, datu buasan di hamparaya, sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran dan datu balimau, kuburan tumpang talu di parincahan, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan pemberontak ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI yang dipimpin Brigjen H. Hasan Basyri dan pembacaan teks proklamasinya di Kandangan.Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

Komentar oleh Kamal Ansyari




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: