Jangan Berhenti Belajar


GERAKAN MAHASISWA DARI REVOLUSIONER KE RADIKAL
Agustus 11, 2008, 3:15 am
Filed under: Sejarah

Pengantar

Kerutan kening bertambah satu hiasi muka saya, ketika  membaca undangan sebagai salah seorang pemakalah dari panitia tentang Gerakan Mahasiswa. Persoalannya betapa lebarnya masalah yang harus dieksplotasi dalam tulisan ini, sementara rujukan yang dimiliki tentang aktivitas mahasiswa di Amerika, Eropa dan Asia sangat terbatas kalau tidak dapat dikatakan tidak memiliki. Juga istilah mahasiswa perlu dibatasi. Karena saat ini istilah mahasiswa ada mahasiswa S1, S2 dan S 3 yang secara subtansi memiliki arti yang sama, yaitu mereka yang menuntut ilmu di perguruan tinggi cuman stratanya yang berbeda. Mudah-mudahan pemahaman tentang mahasiswa yang akan dibahas dalam tulisan ini sepemahaman dengan apa yang diinginkan oleh panitia.

               

                Mahasiswa yang saat itu  saya pahami merupakan suatu golongan yang boleh jadi dikatakan baru di Indonesia, tetapi dalam realitas sejarah banyak yang telah mereka toreh sebagai dampak kegiatan-kegiatannya. Bermuasal dari Sumpah Pemuda yang telah menjadi bangunan kokoh untuk mempersatukan bangsa Indonesia melawan Belanda, terlibat dalam revolusi , mempurukan Orde Lama, malari, dan menjungkalkan ordebaru. Dapat dikatakan, gerakan mahasiswa dalam revolusi dikatagorikan sebagai gerakan revolusioner, dan pada gerakan berikutnya dikatagorikan sebagai gerakan radikal.

 Kenapa gerakan mahasiswa tahun 40-50 an dikatagorikan dalam gerakan revolusioner. Revolusi hemat Giddens (  1999: 27)  bertujuan meluluh lantakan seluruh tatanan, sosial, ekonomi,politik hukum, dan kebudayaan, untuk diganti dengan yang baru.Misalnya, dari negara terjajah menjadi negara yang merdeka.  Spirit mereka yang terlibat dari revolusi disebut revolusioner. Adapun gerakan  radikal mempunyai tujuan  untuk merubah  tatanan yang dianggap merugikan ( C. Calhoun, 1995: 663). Menarik untuk dicermati bahwa gerakan revolusioner dan gerakan radikal mahasiswa berbeda dengan gerakan kaum politisi sebab gerakan mahasiswa   dilandasi.oleh gerakan moral.Yang melulu ingin memperbaiki tatanan, setelah berhasil  kembali ke kampus bukan mencari kedudukan.

                Dalam diskusi ini, saya  meneropong bagaimana mahasiswa menjadi tampil sebagai kekuatan moral dengan mencoba menggunakan pendekatan  trikotomi pendidikan  dari Anderson yaitu pesantren, pendidikan Barat, dan dojo.

 

 

Revolusi Pemuda

 

Adalah Ben Anderson (1972) yang melihat bahwa pecahnya revolusi di Indonesia tidak dapat diterangkan dengan memuaskan apabila menggunakan pendekatan Marxis konvensional, atau dilihat dari keterasingan para cendikiawan ataupun rasa frustasi terhadap asa yang memuncak Anderson melihat, bahwa revolusi Indonesia berada ditangan pemuda.Pemuda yang mencetuskan dan terlibat langsung dalam revolusi hemat Ben melalui proses trikotomi pendidikan, yaitu pesantren, pendidikan Barat, dan dojo.

Semangat pesantren telah mematrikan  nilai, kesederhanaan, semangat kerja sama, solidaritas dan keikhlasan kepada para santri.Lokasi pesantren memang di pinggiran desa akan tetapi kelaknya menciptakan para santri rasa tidak terikat dari masyarakat yang kuat dikungkung oleh adat yang ketat dan suatu pendalaman  dalam kesadaran beragama. Dalam pandangan santri bahwa  pesantren merupakan pemusatan kekuatan.

 Pendidikan Barat berasal pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang tentunya  murid-muridnya atau mahasiswanya berasal dari anak-anak  dari para  priyayi. Tidak dapat dipungkiri, bahwa barisan pemuda telah merumuskan dan mengintrudusir ideology  nasionalisme pertama-kalinya. Misalnya  pada tanggal 26 sampai  28 Oktober 1928 lagu Indonesia raya pertama kalinya dikumandangkan dan bendera merah putih dikibarkan. Pada saat itu juga para pemuda  mengambil sumpah  untuk  bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Pemimpinnya sangat terbatas di dua kota besar yakni Batavia dan Bandung.

Dojo adalah sekolah  tempat para kendo dan bentuk-bentuk perkelahian dan perang tradisional diajarkan oleh para guru-gurunya. Dojo biasanya terletak di tempat-tempat terpencil dan pengajarannya memberikan tekanan pada  pematian nafsu, semadi, dan pengabdian yang ikhlas kepada g uru. Semangat dojo tentang spirit peperangan dan jiwa kastria terbangun. Kemenangan atau kekalahan  dalam suatu pertempuran bukan ditentukan oleh banyak dan sedikitnya tentara melainkan tentara yang memiliki ruh perjuangan dan sempurnanya latihan. Semangat dojo  terrefleksikan dari PETA.

Trikotomi model pendidikan ini yang menjadi spirit pemuda dalam revolusi di Indonesia dan berhasil menjungkirkan penindasan, diskriminasi yang dialami oleh bangsa secara keseluruhan akibat dari penjajahan dan memunculkan potret baru sebagai bangsa yang merdeka.

 

Gerakan Radikal Mahasiswa tahun 66

Secara emperik gerakan radikal mahasiswa  menentang  rezim Sukarno dimulai pada tanggal 10 Januari 1966. Mahasiswa  turun ke jalan dengan jargon-jargon yang diusung   bertuliskan tentang  tuntutan amanat penderitaan rakyat. Bukan yel-yel tentang parpol dan kehebatan sang tokoh-tokoh tertentu, melainkan hujatan-hujatan kepada mentri-mentri yang korup.  Mahasiswa mendatangi  gedung-gedung  tempat bercokolnya para mentri kabinet dan mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong sambil menyodorkan tiga tuntutan pokok (tritura) yaitu (1)  pembubaran PKI Sekarang Juga, (2)  ritul kabinet Dwikora dari mentri-mentri goblok dan Gestapu, (3)  cabut peraturan –peraturan Pemerintah  yang Menyulitkan rakyat ( Soe Hok Gie, 1995: 6).

Dalam  gerakan radikalnya mahasiswa membangun  organisasi yang dikenal dengan KAMI. Dengan tujuan perjuangan moral.  Dalam artian ingin menyelamatkan  negara dari bahaya PKI dan rezim nasakom. KAMI   anggotanya terdiri dari organisasi-organisasi mahasiswa seperti  HMI, PMII,  IMM, PMKRI, IMADA, IMABA, PMB, MMB, Radio Amanat Penderitaan Rakyat (AMPERA)dan lain sebagainya. Selain itu yang mungkin tidak tercatat dalam sejarah adalah peranan organisasi pendaki gunung mahasiswa yang gemar bertualang  dan melatih dirinya di alam bebas seperti Wanadri dari Bandung dan MAPALA   UI dari Jakarta.

Pada tataran Sekolah lanjutan Atas dan Pertama muncul juga organisasi. Organisasi yang terbesar adalah Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama (IPNU) dan lain sebagainya

Dalam gerakan ini, tujuh anak muda gugur sebagai syuhada, yaitu Hasanuddin Madjedi (UNLAM Banjarmasin), Arief Rahman Hakim (UI), Djubaidah (KAPPI Jakarta), Syrief Alkadri (KAPPI  Makassar ), M. Syafei ( SMA Muhamaddiyah Jakarta), Margono, Arief Ambar Winangun masing-masing dari SMA Muhamaddiyah Jogyakarta.

Berpangkal dari latar belakang organisasi mahasiswa terlihat trikotomi dari Anderson  tidak menjadi absolut untuk dijadikan kerangka referensi untuk melihat  gerakan mahasiswa .  melainkan terjadinya proses pelarutan Misalnya Lembaga pendidikan Belanda berubah menjadi perguruan tinggi negri dengan fakultas-fakultasnya .  Tidak dapat dipungkirti sebagian mahasiswa-mahasiswanya melatih diri di luar kampus dan membentuk organisasi  mahasiswa Islam seperti, HMI, PMII, IMM, SEMMI, GERMAHI, Pelajar Islam Indonesia, Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia ( IPPI), IPNU dan sebagainya yang proses pencerahan pikiran, kesederhanaan, bekerja keras, kesadaran otonom bersama yang kuat, tidak terikat, solidaritas, pemusatan kekuatan, ikhlas mengejar hakekat hidup mirip pola pendidikan pesantren . Adapun Wanadri dan Mapala UI  yang anggotanya melatih diri di dengan bertualang di alam bebas,jujur, patriotic, disiplin, menjadi rendah hati karena tidak mampu untuk menentang alam, belajar  keluguan dari  penduduk, bersikap kasatria, perduli dengan kesukaran orang lain, solidaritas,mandiri, pionir, mirip seperti yang diperoleh  dalam system pendidikan model dojo.

Keikhlasan,  ketidak terikatan (independen), sifat pionir, dan cepat mencari alternatif  yang menjadi arus moral force merupakan model yang diadopsi  dari system pendidikan dojo dan pesantren kemudian berbenturan  dengan mahasiswa yang menggunakan neraca oportunisme politik. Hal ini terlihat ketika mahasiswa Sastra  dan Psikologi mencoba meyakinkan DMUI dan KAMI untuk mempublikasi penerbitan demontrasi mahasiswa yang akhirnya ditolak. Akhirnya. Brosur itu diterbitkan oleh sebuah majalah fakultas, Gema Psikologi dan Organisasi Pendaki Gunung Mapala UI yang sebenarnya kurang representatif.

 

Jiwa pioneer, jujur dan semangat dakwah (siar) dan berani mengambil sikap untuk selalu menjunjung sikap moral itu kembali ditampakkan  ketika terjadi kepengecutan media masa, pers dan radio sekitar akhir Febuari 1966 yang melulu menghitung kalkulasi oprtunis politik dengan  munculnya  Radio  Ampera yang diselenggarakan oleh mahasiswa Bandung dan Jakarta. Dengan jujurnya Radio Ampera menyerang Sukarno, ( yang saat itu masih banyak dikelilingi oleh para penjilat), Ibnu Sutowo, Hartini bahkan KAMI dan KAPPI ikut dikecam karena dianggap  mabuk kemenangan.

 

                Dalam catatan Soe Hok Gie (1987), Radio Ampera telah menyiarkan bahwa perjuangan mahasiswa dianalogikan dengan cerita tentang seorang  gunfighter (koboi ). Begini ceritanya,  Seorang  gunfighter pengembara datang ke sebuah kota yang dipenuhi oleh para bandit yang merampok, memperkosa  penduduk kota. Kemudian  sang gunfighter menembaki para bandit. Ketika penduduk kota ingin mengucapkan terimakasih kepada sang gunfighter ia sudah pergi untuk mengembara lagi. Ia tidak ingin memperoleh pujian.

                Begitupula  perjuangan mahasiswa. Ia turun ke jalan untuk mendemontrasi karena banyak bandit dari rezim nasakom yang menjerumuskan rakyat ke jurang kemelaratan.. Setelah rezim nasakom lari terbirit-birit,  mahasiswa.  kembali lagi ke bangku kuliah . Ia tidak mau mengeksplotasi jasa-jasanya untuk dapat berbagi rezki.

                Aklhirnya setelah  Ambruk rezim lama, Radio Ampera dibubarkan, para teknisinya  adalah mahasiswa eloktro ITB kembali ke Bandung , sedangkan redaksinya pulang kembali ke kampus UI untuk  menyelesaikan kuliah.

                Ada juga contoh yang menarik, seorang pendaki Gunung merangkap seorang demonstran 66 bernama Soe Hok Gie,  setelah  rezim lama ditumbangkan ia kembali Ke UI dan akhirnya memilih menjadi dosen jurusan sejarah sebagai profesinya  pada Fakultas Sastra UI, sedangkan teman-teman aktivis lainnya yang  berideologikan oportunis politik banyak yang menjadi anggota parlemen. Ketika ia menjadi dosen muda banyak kritik yang ia lontarkan kepada dosen-dosen seniornya.yang dianggap terlalu kaku dan sok pintar. Keinginan bertualang tidak pernah pupus dalam semangatnya. Sebab ia tahu persis ketika bertualang ia memperoleh pelajaran yang berharga untuk pengembangan pribadinya. Akhirnya ,Soe Hok Gie meninggal dunia  tercekik oleh gas beracun dipuncak Gunung  Mahameru Jawa Timur . Hok Gie sesosok intelektual muda yang bebas, seorang pejuang yang kesepian, sekarang ia mengembara di padang pengembaraan yang abadi.

 Selain itu  seorang  Ahmad Wahib  (1988) seorang mahasiswa yang selalu bergulat  pikirannya dalam proses pencarian. Aktivitasnya dalam gerakan mahasiswa mengantarkannya ke dalam persoalan agama dan kemasyarakatan. Ia  membangun forum diskusi yang diselenggarakan setiap hari Jumat di rumah H.A. Mukti Ali. Forum diskusi itu dihadiri oleh Deliar Noer ,Kuntowijoyo, Rendra, Sutrisno Hadi, Simuh, Boland, Bakker, Niels Mulder, James Peacock, Syamsuddin Abdullah dan banyak cendekiawan lainnya. Pada akhirnya  ia wafat tertabrak oleh orang muda yang ngebut.  Padahal Ahmad Wahib selalu memperjuangkan golongan muda.

 

                                                       

Radikalisme Mahasiswa dari 74 hingga 78

 

                Setelah Soekarno menyerahkan kekuasaannya kepada Soeharto, mahasiswa Indonesia di mata rakyat sangat harum . Aktivis mahasiswa menjadi tokoh-toko nasional. Proses pembentukan kepribadian  melalui pencairan dari trikotomi  Anderson masih terbangun dalam kepribadian mahasiswa.  Pencarian  diri dan keperdulian terhadap rakyat menjadi cap yang selalu disandang oleh mahasiswa.

                Hubungan  mesra antara mahasiswa dengan rezim Suharto  mulai retak. Ketika   pembangunan menjadi jargon pemerintah maka stabilitas yang dikelola militer menjadi mutlak. Dampaknya, negara relatif menjadi kuat, sementara masyarakat sipil mulai lemah. Pada periode pembangunan modal-modal asing masuk maka bentuk negara oleh Arief Budiman disebut sebagai Negara Otoriter Birokrasi  Rente (OBR). Negara OBR hemat   Arief Budiman (1991:14) yaitu,  ketika negara sibuk dalam pembangunan maka kaum berjuasi pun diciptakan . Para elite negara  melalui kekuasaan birokrasinya memberikan fasilitas-fasilitas bagi para penguasa baik swasta maupun pemimpin perusahaan negara (anda sudah tahu siapa mereka). Untuk jasanya ini, kaum elite meminta imbalan atau ongkos sewa. Dapat dikatakan bahwa jabatan birokratis bagi elite negara menjadi alat produksi untuk mengakumulasi modal melalui system rente. Konsep negara OBR dari Arief Budiman merupakan  pengembangan  konsep negara otoriter birokrasi (NOB) dari  Donnell yang di tapsirkan oleh Arief Budiman  mulai tumbuh dan menguat. Negara Akhir mahasiswa kembali mengoposani.negara. Muncul peristiwa malari 1974 yang protes terhadap leluasanya modal asing terutama modal dari Jepang melalui jalur  asisten pribadi (aspri presiden). Akhirnya, beberapa tokoh mahasiswa diadili.

                Pressing mahasiswa terhadap negara berhasil apabila ukurannya untuk membubarkan aspri berhasil. Akan tetapi peristiwa 74 dan 78 membuat mahasiswa terpuruk. Kehidupan mahasiswa kemudian dikerangkeng ketika di Perguruan Tinggi diberlakukan NKK/ BKK. Mahasiswa kehilangan kreativitasnya,  kemandiriannya, kehilangan keberanian untuk melontarkan kritik sosial, Dewan Mahasiswa dihapuskan, dan yang menjadi panglima mahasiswa di kampus adalah Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (PR III). Mahasiswa melulu dituntut untuk belajar cepat selesai sekolah dan  menyandang gelar. Kondisi ini pada akhirnya mengasingkan hubungan mahasiswa dengan rakyat yang selalu dibelanya.

                Ketika NKK diberlakukan saya sudah menyandang predikat B.A, suasana kampus mulai  redup dinamikanya. Ahirnya saya pergi bertualang  untuk mencari arti hidup. Pada akhirnya , saya dipanggil oleh dosen kepenasehatan untuk menyelesaikan skrpsi saya.

               

                Tumbangnya  Rezim Suharto

 

                Di bawah rezim Suharto, Indonesia bangkit menjadi salah satu negara kapitalis di Asia Tenggara. Rezim sendiri tidak mau mengakui bahwa system kapitalis sudah menjadi system perekonomian di Indonesia. Mungkin pemerintah tidak mau dicap sebagai negara kapitalisme ersatz . Kapitalisme ersatz adalah tesis dari Yoshihara Kunio ketika kapitalisme berkembang di Asia.  Kapitalisme ersatz menurutYoshihara Kunio (1987) bukan kapitalismen tulen, kapitalis substitusi yang lebih inferior. Dalam  ersatz kapitalisme ada dua hal, pertama sama dengan  OBR, kedua hanya bergerak di bidang jasa, kalaupun bergerak di bidang industri  ia hanya sebagai agen industri manufaktur asing di negrinya sendiri. Anda tentu bisa melihat kebenaran teori ini ketika melihat pembangunan di Indonesia.Memang negara kita menjadi kuat. Akan tetapi akhirnya negara bukan milik rakyat tetapi milik penguasai.

                Kuatnya negara membuat mahasiswa tidak mempunyai kepekaan politik.Bahkan periode 80 an eksistensi mahasiswa banyak dipertanyakan oleh masyarakat. NKK dan BKK oleh sebagian mahasiswa yang sadar dianggap sebagai alat pengebiri mereka. Akhirnya mahasiswa mencari jawaban di luar kampus. Seperti layaknya para santri yang selalu mencari guru satu ke guru lainnya di masa lalu. Maka mahasiswa aktif berdiskusi di mesjid-mesjid dan forum diskusi lainnya di luar kampus yang dihadiri oleh para aktivis lainnya dan. Orang-orang yang piawai di bidangnya.

                Harapan  pemerintah agar mahasiswa menjadi anak mamih bubrah.  Bencana alam, kemarau,  inflasi dan krisis moneter membantu mematangkan suasana bagi  mahasiswa untuk menggulung rezim yang memasungnya. Dan berhasil

                Menarik untuk dikaji radikalisme mahasiswa pasca 78 dimotori oleh mahasiswa –mahasiswa dari perguruan tinggi swasta. Besar dugaan, bahwa mahasiswa perguruan –perguruan tinggi negri dikotak-kotakan dalam kampus-kampus yang diatur oleh rezim. Menurut Dawam Raharjo (1984:11) Kampus-kampur negri tertentu berperan sebagai peternakan mahasiswa, fasilitas dan diindoktrinasi dijejalkan. Kondisi ini membuat mahasiswa sebagai penyuara hati rakyat dari  perguruan tinggi swasta mengambil alih peranan mahasiswa dari negri.  Betul kata teori, bahwa gerakan radikal akan berhasil apabila dibangun suatu koalisi. Akhir koalisi mahasiswa dari perguruan tinggi swasta berkoalisi dengan mahasiswa dari perguruan tinggi negri berhasil menggulingkan rezim yang sangat kokoh memapakkan keajegannya.

 

Penutup

                Saya teringat pidato inugurasi dari Marx Weber (Taufik Abdullah,1987:6) yang sangat cantik untuk kita simak.Apakah artinya hidup sebagai angkatan muda yang dibayangi oleh kebanggaan generasiyang lebih tua tentang keagungan yang mereka capai. Apakah genarasi sesudah itu hanya pengekor, epigon yang harus menerima? Pernyataan Weber itu terlontar ketika Jerman muncul sebagai negara besar . Akhirnya kejayaan dan kebesaran politik mumunculkan kerawanan intelektual dan moral yang payah

                Mahasiswa adalah anak bangsa yang mewarisi negri ini. Agar warisan ini tidak digrogoti dan diperas sumsumnya serta ternina bobokan oleh keberhasilan mahasiswa generasi sebelumnya dalam menggulung rezim maka rengkuhlah ilmu baik di kampus , mesjid kampus, diskusi-diskusi di mana-mana, kenali rakyat, pererat simpul komunikasi intelektual  suarakan   aspirasi yng tidak pernah dibawa oleh anggota dewan atau orpol. Tetapi hati-hati mahasiswa jangan sampai dijadikan tunggangan parpol atau kekuatan tertentu yang hanya menggunakan mahasiswa  jukung untuk mencapai kepentinmgan mereka.

 

Kepustakaan

 

Anderson Ben, 1988, Revolusi Pemoeda. Jakarta: Sinar Harapan

Abdullah Taufik(ed.), 1987, Pemuda dan Perubahan Sosial: Jakarta: LP3ES

 

Budiman Arief, 1991, Negara dan Pembangunan. Jakarta: Yayasan Padi Kapas

 

Calhoun. C. 1995, The Social Science of Encylopedia. London: Routledge

 

Giddens. A. 1994, Beyond left and Right: The Future of Radical Politics. Oxford: Blackwell Publisherts.

 

Hok Gie Soe.1987, Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES

Kunio Yoshihara,1987, Kapitalisme Semu Asia Tenggara. Jakarta:LP3ES


18 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Alhamdulillah, bertambah lagi pengetahuan saya tentang sejarah pergerakan Mahalsiswa eh mahasiswa di Indonesia.

Komentar oleh Septha Yudha Herliandita

Salam persahabatan Pak MZ, sungguh menarik membaca artikel bapak diatas, pengetahuan dan tamabahan ilmu bagi saya. Barangkali ada sedikit “perbedaan” pandangan dengan acuan referensi yang bapak sajikan dalam artikel ini. Bagi saya pribadi istilah “revolusioner” ataupun “radikal” merupakan subsistem dari paham nasionalis yang menginduk pada paham materialis. Paham yang telah terbukti meluluhlantakkan aturan dan pedoman yang telah disusun sedemikian rupa dari langit, paham yang menurut saya tidak dapat lagi kita jadikan bahan acuan untuk menilai, bertindak, dan menginterpretasi.Kalau kita berbicara sejarah, artinya adalah kita berbicara tentang masa lalu, dan secara konsep sungguh jelas bahwa bangsa kita telah lama menjadi “murid” paham materialis yang dengan sistemik dikembangkan oleh dunia lain di bumi ini. Timbulnya pergerakan mahasiswa dimasa lalu juga tak lepas dari efek domino yang tercipta dari pandangan tokoh masa lalu kita yang berpandangan materialis. Barangkali saya lebih senang menyebut upaya kemerdekaan negeri ini sebagai upaya melepaskan diri secara utuh dari beban materi dan beban pemikiran yang ditanggung oleh negeri ini. Upaya yang sangat wajar menurut saya dilakukan oleh anak negeri yang juga barangkali mempunyai konsep dan pandangan sendiri tentang negerinya. Bagi saya upaya wajar tersebut belumlah dikatakan sebagai upaya yang revolusioner, karena tatanan yang tercipta pada saat itu bukan tatanan keseluruhan aspek negeri ini, barangkali tatanan yang tercipta adalah tatanan yang berlaku sebagian bukan keseluruhan. Ketika tatanan yang tercipta tersebut berbenturan dengan tatanan yang sudah ada sebelumnya, adalah sangat wajar jika kemudian terjadi friksi pemikiran yang berimbas pada upaya melepaskan diri secara utuh. Konsep trikotomi yang dijelaskan bagi saya jelas sebagai konsep sekuleris yang lagi-lagi menginduk pada paham materialis. Artinya saya sangat memahami ketika Soekarno kemudian ingin melawan arus dengan konsep nasakomnya, hanya saja doktrin materialis yang sudah melekat erat pada diri beliau mempengaruhi draft penyusunan nasakom tersebut, dan juga kepentingan-kepentingan yang bermain saat itu. Konsep “radikal” juga konsep yang masih samar menurut saya, sama halnya konsep “fundamentalis” yang dikomandokan oleh dunia lain di bumi ini. Ketika radikal diartikan upaya memaksakan kehendak dengan segala cara agar tujuannya tercapai, maka saya juga dapat menyebutkan keradikalan pemerintah dalam memaksakan kehendaknya dengan menghasilkan keputusan yang berpihak. Artinya adalah masa-masa periodik pergerakan mahasiswa yang bapak MZ ulas adalah masa-masa dimana upaya-upaya penyuburan paham materialis berlangsung. Sehingga kalau boleh saya mengatakan pergerakan mahasiswa langsung ataupun tidak langsung berakar pada doktrin materialis yang mereka dapatkan di bangku kuliah, pun juga gaya pemerintah negeri ini yang sangat lama memuja gaya dari paham materialis,dengan masih tetap menganut trias politika dalam tatanan pemerintahannya, jadi gesekan yang sering terjadi selama masa periodik pergerakan mahasiswa adalah gesekan homogen, dan tidak merubah apapun, karena kalaupun pergerakan mahasiswa kemudian berhasil, tetap akan mengusung paham materialis tersebut. Sama sekali tidak ada perubahan menyeluruh yang sering kita sebut dengan revolusi.

Komentar oleh jundul

Maaf, saya lupa untuk mengundang pak MZ untuk melihat-lihat gubuk saya di jundul.wordpress.com dan meninggalkan oleh-oleh konstruktif bagi perkembangan gubuk saya kedepannya, salam

Komentar oleh jundul

sebagai seorang mahasiswa di salah satu sekolah tinggi di sidoarjo saya lebih menekankan pergerakan kemahasiswaan yang bersifat keilmuan bukan pergerakan politik secara langsung. jadi pergerakan yang lebih bersifat menyadarkan ini lebih efektif dari pada gerakan turun jalan yang mengarah pada tindakan anarki.di kampus saya, saya telah mendirikan UKKI dan membuat acara2 pengkajian masalah yang sedang up to date, gimana menurut bapak??butuh masukan.trim pak MZ,Salam kenal

Komentar oleh indiesastra

diskusi dan mengkaji saja tidak cukup bung.
setelah pengkajian berlangsung dan menghasilkan sebuah hasil ataupun kesimpulan, lantas praktem apa yg harus diusung?
nah. mohon jangan disalahartikan tindakan aksi turun kejalan yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa.
ini adalah cara terbaik menurut saya sebab tulinya telinga pemerintah kita.
mahasiswa adalah tonggak perubahan.
jadi perlulah diingat bahwa mahasiswa bukan kaum yang tak berkontribusi apa2 pada negara ini.
namun perlu diingat juga bahwa sebagai rakyat pun kita jangan menjadi rakyat yang reaksioner.
salam demokrasi!

Komentar oleh pupu

ass. senang sekali bisa membaca tulisan Bapak. minimal sebagai mahasiswa arsitektur saya bisa belajar dari sejarah. oia, beberapa tulisan bapak juga menjadi refernsi bahan tugas saya.
semoga saya juga tidak pernah berhenti untuk belajar apa saja. Termasuk untuk mempelajari sejarah lebih mendalam.

Komentar oleh Rifqi

Bapak, saya mahasiswa arsitektur Unlam. Sebagian teman saya di FKIP kenal menjadi mahasiswa Bapak.
Salam kenal dari saya.

Komentar oleh Rifqi

To Jundu: Bapak atau Mas atau kawan saya memanggil anda? Komentar sampean secara nurani saya akui,bahwa materilistis yang berbentuk kapitalis, komonis ataupun sosialis begitu kuat menyelimuti pemikiran banyak orang, mungkin termasuk saya. Secara fenomena sejarah pemikiran materilistis begitu kuat dalam gerakan-gerakan sosial di negeri kita ini. Padahal kita yakini, bahwa meterilistis tidak disukai dalam agama Islam. Bahkan pada masa kekinian tidak jarang materislistis masuk dalam ruang agama, sehingga ada jilbab menjadi bagian dari ruang mode bukan sebagai penutup aurat. Benar apa yang dimaksud mas Jundu, tampaknya suasana spritual keihlsan bernegara sebagai umat Islam yang menjadi rakyat Indonesia harus dikedepankan.

Komentar oleh fnonk

To Indiesastra: Mas Indie, hemat saya turun jalan boleh-boleh saja. Akan tetapi yang harus diingat, bahwa apa yang dilakukan oleh mahasiswa, polisi, dosen, eksekutif muda, para pejabat dan lain sebagainya harus dalam tataran kesadaran sehingga apa yang diexpresikan selalu konstruktif. Memang kenyataan yang kita lihat, dengar dan baca gerakan-gerakan yang dilakukan oleh hampir semua lapisan masyarakat cenderung dibawah ketidak sadarn, sehingga hasilnya kita sudah ketahui.

Komentar oleh fnonk

Salam kenal dari Perhimpunan Mahasiswa Bandung

Komentar oleh PMB Bandung

Mahasiswa dan pemuda selalu menjadi pelaku sejarah, pengisi sejarah, dan sekaligus korban sejarah.

Komentar oleh budi kurniawan

Ada tulisan yg barunya?????…. Bagaimana kabarnya dgn “W”

Komentar oleh PMB Bandung

🙂

Komentar oleh PMB Bandung

gerakan mahasiswa sekarang hanya sebatas gerakan rekasioner, tanpa adanya penguatan ideologi kepada mahasiswa-mahasiswa lain sehingga melahirkan sistem barbar di kalangan mahasiswa itu sendiri. dan kurangnya gerkan mahasiswa bergabung dengan gerakan rakyat revolusioner sehingga langkah sejarah perjuangan mahasiswa hanya bersifat satatis, gerakan mahasiswa harus tau bagaimana misi revolusi kita bisa terwujud dengan kepemimpinan rakyat pekerja di tampunk kekuasaan menuju sosialisme yang kita inginkan, sistem tanpa penindasan
salam………!

Komentar oleh busta

bis nyandang tiga hurup di belakang nama, rasanya masih pengen balik duduk di ruang kuliah, en dengerin kuliah2 lagi. tapi dengan perantara web ini, masih bisa baca tulisan2 pendekar psp sejarah.
salam!

Komentar oleh iwien

Luar Biasa!!!
“Hidup Mahasiswa! semoga kita menjadi mahasiswa yang tidak hanya pandai memakan jasa namun juga sanggup memberikan jasa untuk bangsa tercinta”
ayo kita mulai dari hal yang kecil, karena sebuah bangunan yang besar diawali dari susunan batu bata kecil….

Komentar oleh KURNIA

boleh tahu mengenai Lahirnya atw sejarah GERMAHI Bang…?

Komentar oleh Hasrul Harahap

Hmm is anyone else experiencing problems with the pictures on this blog loading?
I’m trying to determine if its a problem on my end or if it’s the blog.
Any feed-back would be greatly appreciated.

Komentar oleh game of war fire age hack




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: